Minggu, 19 Februari 2017

Kok Anakku Alergi ?



Pertanyaan itulah yang pertama muncul ketika saya mengetahui bahwa anak saya mengalami alergi. Padahal, saya merasa bahwa saya dan suami tidak memiliki alergi. Kok bisa ya?

Putra pertama saya ketika itu berusia hampir dua tahun (kurang beberapa hari saja sih...). Saya mengajaknya pergi ke rumah pakdhenya (kakak saya) yang berjarak sekitar 2 jam dari rumah. Ketika itu, kondisi di kakak saya sedang repot. Sampai anak saya telat untuk makan. Padahal, sore harinya saya akan pulang. Singkat cerita, siang itu anak saya hanya makan bubur instan dan makan telur ayam kampung rebus.

Sore harinya kami pun pulang dengan naik kendaraan umum. Kebetulan hari itu akhir pekan, jadi bus pun padat penumpang. Anak saya merasa tidak nyaman dan berkeringat karena gerah. Di perjalanan, saya melihat telinga anak saya memerah. Saya pikir, mungkin karena pengaruh keringat dari anak saya.

Sampai di rumah, saya melihat ada bentol kecil-kecil di sekitar alis matanya seperti digigit ulat. Saya berpikir, ulat dari mana ya? Segera saya ganti seluruh pakaiannya dan membersihkan tubuhnya. Namun ulatnya tidak ada, padahal saya sudah membersihkan seluruh isi rumah. Saya kemudian memberinya minyak telon. Saya sama sekali tidak berpikir bahwa itu gejala alergi.

Beberapa menit setelah saya memberi minya telon, bentol di sekitar alis menghilang. Namun pindah ke pelipis, begitu seterusnya sampai saya mendapati bentol-bentol di seluruh tubuhnya, yang hilang dan muncul bergantian. Jujur saya sangat ketakutan ketika itu. Saya bertanya kepada teman saya, dan teman saya bilang kalau anak saya mengalami kaligata atau alergi kulit. Kebetulan anak teman saya juga pernah mengalami kaligata, jadi dia bisa menenangkan hati saya kala itu. Teman saya memberikan saran penanganan pertama, yaitu dengan mengoles minyak kayu putih atau bedak dingin anti gatal.

Keesokan harinya, bentol pada tubuh anak saya semakin banyak dan menyebar. Kira-kira ini berlangsung hingga 3 hari. Bentol muncul hingga ke wajah. Astaghfirullah...saya benar-benar khawatir, hingga saya membawanya ke dokter anak. Dokter kemudian bertanya pada saya dan suami, apakah diantara kami ada yang memiliki alergi? Lalu kami pun kompak menjawab, tidak. Lalu dokter bertanya lagi, apakah ada keluarga yang mengalami alergi? Kami pun menjawab, tidak tahu.

Dokter kemudian menjelaskan bahwa alergi pasti diturunkan oleh orangtua, entah dari bapak, ibu, hingga nenek moyangnya ke atas. Alergi memang diturunkan, namun tidak semua keturunan pasti mengalami alergi. Kemunculan alergi juga berbeda-beda antar anggota keluarga, bisa muncul sebagai asma, gatal-gatal berair, bentol-bentol seperti digigit nyamuk (seperti kasus anak saya), bersin-bersin, dll. Alergi dipicu oleh beberapa hal, seperti debu, serbuk sari, makanan (ikan laut, telur, kacang-kacangan, coklat, dsb). Tidak ada obat untuk alergi, namun alergi dapat dicegah. Obat-obatan yang digunakan oleh penderita alergi biasanya hanya untuk meringankan gejala, bukan untuk mengobati.

Akhirnya, dokter meresepkan bedak cair Cal dan syrup Ceterizine untuk meringankan gejala alergi anak saya. Duuh, rasanya kalau minum obat itu bagaimana ya?? Saya termasuk orangtua yang sebenarnya tidak terlalu suka memberikan obat pada anak. Namun demi meringankan gejala, ya sudah akhirnya saya minumkan obatnya, meskipun hanya setengah takaran dari yang diresepkan dokter.

Selama dua tahun saya pantau alergi anak saya. Dan saya melihat bahwa anak saya sebenarnya tidak ada pantangan makan apa pun (pemicu alergi), namun tidak boleh berlebihan. Alergi anak saya muncul ketika kondisi badannya kurang fit dan makan makanan pemicu alergi yang berlebihan. Jadi sekarang saya punya cara tersendiri untuk mengatasi alergi anak saya. Jika dia makan makanan pemicu alergi sedikit saja, lalu tiba-tiba muncul bentol merah di kulitnya, maka saya pastika kondisinya kurang fit. Berarti jauhi dulu makanan pemicu alergi seperti telur, produk turunan telur seperti roti, bakso, susu sapi murni, tempe, ikan laut, coklat, snack ber-msg. Saya ganti menunya dengan tahu, daging sapi, abon, ayam, dan sayuran.

Daya tahan anak juga meningkat ketika saya rutin memberikan anak saya madu sebanyak satu sendok makan per hari ketika pagi. Selain nafsu makannya bertambah, kondisi badannya selalu fit sehingga alergi pun hampir tidak pernah terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar