Halo para bunda...
Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman ketika si kecil terkena campak. Apa sih penyakit campak itu? Apa penyebabnya? Bagaimana gejalanya? Terus penanganannya bagaimana? Waduh... sebagai seorang ibu dengan dua anak, namun baru pada anak kedua ini saya baru mengenal dengan baik penyakit ini. Saya tidak akan menjelaskan lagi secara teori ya, bunda. Karena gejala spesifik dan segala macamnya bisa berbeda antara satu anak dengan anak lain. Saya akan bercerita berdasarkan pengalaman.
Putri saya yang kedua berusia 15 bulan. Awalnya, saya mengajak adik untuk mengantar sang kakak ke dokter anak karena mengalami sakit pada saluran kencing (isk, artikelnya nanti saya terbitkan berikutnya yaa....). Pada saat antri, di sana banyak sekali pasien balita yang juga sedang menunggu dokter. Dalam hati, saya memang agak khawatir kalau membawa anak sehat ke tempat orang berobat, entah itu klinik atau bahkan rumah sakit. Karena di sana saya tahu pasti banyak virus yang bertebaran dari pasien. Tapi karena pada saat itu asisten rumah tangga saya sedang izin, jadi terpaksa saya mengajak si adik.
Seminggu setelah sang kakak dari dokter, saya ingat hari itu hari Selasa siang tiba-tiba badan adik agak anget. Dan sampai sore hari semakin panas. Saya hanya berpikir mungkin adik mau tumbuh gigi (karena gusi pada gerahamnya terlihat bengkak). Malam hari saya ukur panasnya mencapai 38,6 derajat celcius. Hmm...saya masih tenang karena si kecil masih terlihat ceria dan masih mau makan minum. Tengah malam ternyata panasnya makin tinggi. Saya mulai panik, namun masih ingat nasehat salah satu dokter, kalau anak demam sebaiknya jangan ganggu tidurnya hanya karena untuk minum parasetamol. Saya hanya mengompres si kecil dengan air hangat dan terus berharap demamnya segera turun. Menjelang subuh, saya raba dahi si kecil dan ternyata demamnya turun. Alhamdulillah...hari Rabu keesokan harinya si kecil kembali ceria dan bermain seperti biasa.
Hari Rabu sore, badannya mulai panas lagi. Sampai malam hari panas semakin tinggi sampai dini hari. Jadi adik itu demam dengan pola siang tidak demam dan malam hari demam dengan suhu mencapai 39 derajat celcius. Saya sudah khawatir saja kalau adik terkena tifus. Namun, tidak ada tanda-tanda penyakit tifus pada saat itu. Saya pun hanya melakukan tatalaksana demam hingga hari ketiga (Jumat siang). Ada dugaan tentang roseola, namun hingga hari keempat demamnya masih ada. Saya juga menduga campak, namun tidak ada tanda-tanda mata merah (konjungtivitis) ataupun bintik merah. Pada hari jumat malam (malam keempat sejak demam dimulai), badan adik semakin panas. Suhunya mencapai 39,6 derajat celcius. Waduhh...panas banget...sang ibu panik deh. Anaknya juga terlihat menggigil dan sangat lemas. Dan demamnya terus ada hingga keesokan harinya (hari Sabtu, hari kelima sejak demam). Pokoknya besok harus ke dokter.
Hari sabtu, ketika bangun tidur, si kecil hanya diam, lemas dan benar-benar tidak mau bergerak. Ditanya hanya diam saja, tidak mau makan ataupun minum. Digendong pun dia nampak pasrah, tidak ada respon gerak sama sekali. Maunya cuma tiduran, glundang-glundung di atas kasur. Hmm...sang ibu dan bapak mulai panik. Ini harus ke dokter. Langsung deh pagi hari itu juga saya bawa si kecil ke klinik. Namun karena hari Sabtu, yang menangani hanya dokter umum. Oleh dokter umum diperiksa, dan demamnya masih 38,9 derajat celcius. Saya tanya diagnosanya apa, apakah tifus? Dokter belum bisa menjawab karena diagnosa tifus hanya bisa ditegakkan dengan tes darah dan dokter menyarankan untuk tidak tes darah dulu, karena demam baru 5 hari, sedangkan tes darah untuk tifus efektif setelah demam lebih dari seminggu. Oke, bukan tifus. Lalu saya tanya lagi, apakah campak? Dokter menjawab bukan, karena tidak ada tanda-tanda campak yang terlihat (bintik memang belum ada waktu itu). Ya sudah, kata dokter ditunggu hingga hari Senin (hari ketujuh sejak demam mulai). Kalau senin masih demam, langsung cek darah. Dokter meresepkan antibiotik dan parasetamol.
Saya tipe orangtua yang agak susah memberikan antibiotik, jadilah antibiotik tidak saya minumkan karena diagnosa dari dokter belum jelas. Saya hanya memberikan parasetamol saja. Demam masih berlangsung hingga sore hari, namun alhamdulillah si kecil mau makan meski hanya sepotong buah. Sore harinya, saat saya akan mengganti bajunya, terlihat bintik merah kecil-kecil dan sangat samar di belakang lehernya. Saya pikir ini hanya biang keringat, soalnya selama si kecil demam dia tetap berkeringat (agak aneh sih, biasanya kalau demam tidak berkeringat). Ketika saya membuka bajunya, Subhanallah...di bagian punggungnya terlihat bintik merah sangat banyak (ini anaknya masih dalam kondisi demam ya bunda....). Dugaan awal saya ini pasti campak. Namun saya masih butuh bukti lain, soalnya bintiknya tidak nyata kalau tidak dilihat di tempat yang terang.
Akhirnya saya googling lagi mengenai gejala campak, dan saya menemukan artikel yang menyebutkan istilah Koplik Spots pada gejala campak, yaitu bintik putih seperti sariawan yang terdapat di bagian dalam dinding mulut. Lalu saya cek bagian dalam mulut adik, dan ternyata Ya Allah...ada beberapa koplik spot di sana. Oke fix berarti anak ini terkena campak. Keesokan harinya, bintik merah semakin terlihat di perut, tangan, dan kaki. Sedikit di wajah. Bintik merah tersebut seperti biang keringat, namun alhamdulillah anaknya tidak rewel. Bintik merah tersebut terus muncul hingga hari Senin, dan ternyata demam adik juga mulai turun. Akhirnya tidak jadi saya bawa ke dokter lagi. Keesokan harinya, si kecil kembali ceria.
Adik sudah imunisasi lengkap, campak pun sudah imunisasi (pada saat sakit ini, adik mau imunisasi MR juga...). Imunisasi memang tidak menjamin seorang anak bebas dari penyakit, namun setidaknya berdasarkan pengalaman, imunisasi mampu mengurangi gejala. Terbukti, adik sama sekali tidak mengalami mata merah dan berair, bintik merah tidak terlalu parah, dan sakitnya tidak sampai lama (seminggu, lebih cepat dibandingkan normalnya penyakit campak yang bisa mencapai tiga minggu).
Keseharian Ibu
Minggu, 01 Oktober 2017
Minggu, 19 Februari 2017
Kok Anakku Alergi ?
Pertanyaan itulah yang pertama muncul ketika
saya mengetahui bahwa anak saya mengalami alergi. Padahal, saya merasa bahwa
saya dan suami tidak memiliki alergi. Kok bisa ya?
Putra pertama saya ketika itu berusia hampir
dua tahun (kurang beberapa hari saja sih...). Saya mengajaknya pergi ke rumah
pakdhenya (kakak saya) yang berjarak sekitar 2 jam dari rumah. Ketika itu,
kondisi di kakak saya sedang repot. Sampai anak saya telat untuk makan.
Padahal, sore harinya saya akan pulang. Singkat cerita, siang itu anak saya
hanya makan bubur instan dan makan telur ayam kampung rebus.
Sore harinya kami pun pulang dengan naik
kendaraan umum. Kebetulan hari itu akhir pekan, jadi bus pun padat penumpang.
Anak saya merasa tidak nyaman dan berkeringat karena gerah. Di perjalanan, saya
melihat telinga anak saya memerah. Saya pikir, mungkin karena pengaruh keringat
dari anak saya.
Sampai di rumah, saya melihat ada bentol
kecil-kecil di sekitar alis matanya seperti digigit ulat. Saya berpikir, ulat
dari mana ya? Segera saya ganti seluruh pakaiannya dan membersihkan tubuhnya.
Namun ulatnya tidak ada, padahal saya sudah membersihkan seluruh isi rumah.
Saya kemudian memberinya minyak telon. Saya sama sekali tidak berpikir bahwa
itu gejala alergi.
Beberapa menit setelah saya memberi minya
telon, bentol di sekitar alis menghilang. Namun pindah ke pelipis, begitu
seterusnya sampai saya mendapati bentol-bentol di seluruh tubuhnya, yang hilang
dan muncul bergantian. Jujur saya sangat ketakutan ketika itu. Saya bertanya
kepada teman saya, dan teman saya bilang kalau anak saya mengalami kaligata
atau alergi kulit. Kebetulan anak teman saya juga pernah mengalami kaligata,
jadi dia bisa menenangkan hati saya kala itu. Teman saya memberikan saran
penanganan pertama, yaitu dengan mengoles minyak kayu putih atau bedak dingin
anti gatal.
Keesokan harinya, bentol pada tubuh anak saya
semakin banyak dan menyebar. Kira-kira ini berlangsung hingga 3 hari. Bentol
muncul hingga ke wajah. Astaghfirullah...saya benar-benar khawatir, hingga saya
membawanya ke dokter anak. Dokter kemudian bertanya pada saya dan suami, apakah
diantara kami ada yang memiliki alergi? Lalu kami pun kompak menjawab, tidak.
Lalu dokter bertanya lagi, apakah ada keluarga yang mengalami alergi? Kami pun
menjawab, tidak tahu.
Dokter kemudian menjelaskan bahwa alergi pasti
diturunkan oleh orangtua, entah dari bapak, ibu, hingga nenek moyangnya ke
atas. Alergi memang diturunkan, namun tidak semua keturunan pasti mengalami
alergi. Kemunculan alergi juga berbeda-beda antar anggota keluarga, bisa muncul
sebagai asma, gatal-gatal berair, bentol-bentol seperti digigit nyamuk (seperti
kasus anak saya), bersin-bersin, dll. Alergi dipicu oleh beberapa hal, seperti
debu, serbuk sari, makanan (ikan laut, telur, kacang-kacangan, coklat, dsb).
Tidak ada obat untuk alergi, namun alergi dapat dicegah. Obat-obatan yang
digunakan oleh penderita alergi biasanya hanya untuk meringankan gejala, bukan
untuk mengobati.
Akhirnya, dokter meresepkan bedak cair Cal dan
syrup Ceterizine untuk meringankan gejala alergi anak saya. Duuh, rasanya kalau
minum obat itu bagaimana ya?? Saya termasuk orangtua yang sebenarnya tidak
terlalu suka memberikan obat pada anak. Namun demi meringankan gejala, ya sudah
akhirnya saya minumkan obatnya, meskipun hanya setengah takaran dari yang
diresepkan dokter.
Selama dua tahun saya pantau alergi anak saya.
Dan saya melihat bahwa anak saya sebenarnya tidak ada pantangan makan apa pun
(pemicu alergi), namun tidak boleh berlebihan. Alergi anak saya muncul ketika
kondisi badannya kurang fit dan makan makanan pemicu alergi yang berlebihan.
Jadi sekarang saya punya cara tersendiri untuk mengatasi alergi anak saya. Jika
dia makan makanan pemicu alergi sedikit saja, lalu tiba-tiba muncul bentol
merah di kulitnya, maka saya pastika kondisinya kurang fit. Berarti jauhi dulu
makanan pemicu alergi seperti telur, produk turunan telur seperti roti, bakso,
susu sapi murni, tempe, ikan laut, coklat, snack ber-msg. Saya ganti menunya
dengan tahu, daging sapi, abon, ayam, dan sayuran.
Daya tahan anak juga meningkat ketika saya
rutin memberikan anak saya madu sebanyak satu sendok makan per hari ketika
pagi. Selain nafsu makannya bertambah, kondisi badannya selalu fit sehingga
alergi pun hampir tidak pernah terjadi.
[Pengalaman] Menggunakan Popok Sekali Pakai (Diapers)
Bagi orangtua yang memiliki bayi dan balita pasti
membutuhkan popok, entah itu popok yang dapat digunakan kembali atau pun popok
sekali pakai. Bagi saya popok sekali pakai wajib ada di rumah, meskipun juga
menyediakan stok clodi di rumah. Kenapa? Karena kebetulan saya tinggal di
negeri awan alias khayangan a.k.a pegunungan yang cuacanya sangat dingin. Belum
lagi ketika musim hujan dan angina tiba, beuh…jemuran bias seminggu keringnya.
Popok sekali pakai memang praktis, tapi efek negatifnya
yaitu jadi banyak sampah dan pastinya menguras isi dompet. Oleh karena itu,
saya selalu mengutamakan harga murah terlebih dahulu saat membeli diapers.
Namun juga perlu diperhatikan sensitivitas kulit dari bayi. Jangan sampai,
harga boleh murah tapi kulit anak kita jadi ruam. Beberapa merk sudah pernah
saya coba, tapi ya tidak semuanya. Lebih banyak sih yang harganya ekonomis.
1. Fitti Daypants
Harganya sangat murah dibandingkan dengan
merk yang lain. Dari sekian banyak merk, saya paling suka Fitti. Sekali lagi,
karena harganya murah dan sering ada promo di minimarket. Sayangnya, kebanyakan
yang dijual hanya ukuran M dan L. Kalo untuk ukuran besar harus lewat online
dan itupun stoknya sangat terbatas. Anak saya menggunakan yang ukuran M,
lumayan tipis, jika dibandingkan dengan ukuran M diapers yang lain, Fitti ini
termasuk agak kecil. Bagian pinggang ada karet yang rapat, jadi jika yang
menggunakan bayinya endut, terlihat bekas karet di pinggang. Daya serapnya
bagus dan sangat banyak. Anak saya biasanya ganti popok setiap 6 jam sekali
kalau siang hari, dan semalam ketika anak tidur (kecuali kalau pup).
2.
Merries
Diapers mahal, ya iyalah. Di kelasnya
(harga), jika popok lain bisa dapat isi 40an, maka Merries ini hanya dapat setengahnya
(isi 20an). Popoknya memang sangat lembut, sangat tipis, ada garis indikator
banyaknya pipis dan gambarnya sangat lucu (warna-warni). Bagian pinggangnya
sangat lembut, jadi tidak menimbulkan bekas di pinggang anak. Saya pernah pakai
popok ini karena waktu itu dapat sampel gratis. Hehehe…
3.
Merries Good Skin
Diapers kelas bawahnya Merries. Iya, ini
Merries versi ekonomis. Harganya lebih murah. Kalau masalah kelembutan karet di
pinggangnya, popok ini paling lembut di kelasnya. Motif gambar hanya satu warna
(ungu). Tapi sayang, daya tampungnya sedikit dan mudah bocor. Jadi harus sering
ganti popok.
4.
Sweety Fitpantz
Sweety mengeluarkan banyak versi untuk
diapersnya. Nah, Fitti Fitpantz yang saya pakai kelasnya yang menengah (yang
gambar Hello Kitty dan Dear Daniel). Daya serapnya bagus, namun saya kurang
cocok di harga. Kebutuhan yang banyak mengharuskan saya mencari yang ekonomis.
Kalau ketebalan sih, popok ini agak tebal.
5.
Goon Smile Baby
Menurut saya popok ini lebih mirip Merries
Good Skin, bagian pinggangnya lumayan lembut dan lumayan tipis. Tapi sayangnya
anak saya tidak cocok, muncul ruam-ruam di pinggang dan selangkangannya. Selain
itu, bagian belakang atas popok ini mudah robek. Anak saya termasuk yang aktif,
untuk ganti popok saja perlu kesabaran yang tinggi dan waktu yang lama. Tarikan
yang agak kuat terhadap popok ini membuatnya mudah robek.
6.
Pampers Ekonomis
Produk ini sepertinya sudah sulit dicari di
pasaran. Harganya memang sangat ekonomis di kelasnya. Kualitas juga lumayan.
Daya serap lumayan tinggi dan kulit bayi tetap kering ketika ganti popok.
7.
Pampers Premium
Diapers kelas atas. Saya membeli popok ini
karena kebetulan waktu itu anak saya baru lahir dan kebetulan juga lagi ada
promo. Di kelasnya, popok ini patut diacungi jempol. Selain tipis dan menyerap
banyak pipis, ukurannya juga sangat fit pada si kecil.
8.
Mamypoko Extra Dry
Waktu itu saya menggunakan popok yang tipe
perekat, karena anak saya masih belum terlalu banyak gerak. Desainnya bagus,
ada gambar karakter pada popoknya. Tipis dan terdapat garis indikator banyaknya
pipis. Perekatnya kuat, jadi meski dilepas berkali-kali juga masih nempel kuat.
9.
Mamypoko Pants Standar
Mamypoko versi paling ekonomis. Popoknya
agak tebal dan ukurannya termasuk besar (sesama ukuran M di kelasnya, popok ini
termasuk besar). Daya serap lumayan bagus, tapi saya kurang sreg dengan karet
pinggangnya yang keras.
10.
Pokana Pants
Diapers ini saya beli karena kebetulan lagi
ada promo. Saya membeli ukuran XL, untuk anak saya yang rentang BB nya di
kisaran 15 kg. Diapers ini tidak melebar seperti Fitti ataupun Mamypoko,
bentuknya ramping, hanya terlihat lebih panjang karena ukuran XL. Desain
diapers dilengkapi dengan gambar-gambar lucu dan warna-warni serta seragam
dalam satu kemasan. Daya serapnya tinggi dan tidak mudah bocor. Bagian pinggang
juga lembut dan karet pinggangnya tidak menimbulkan bekas pada si kecil.
Langganan:
Postingan (Atom)