Pertanyaan itulah yang pertama muncul ketika
saya mengetahui bahwa anak saya mengalami alergi. Padahal, saya merasa bahwa
saya dan suami tidak memiliki alergi. Kok bisa ya?
Putra pertama saya ketika itu berusia hampir
dua tahun (kurang beberapa hari saja sih...). Saya mengajaknya pergi ke rumah
pakdhenya (kakak saya) yang berjarak sekitar 2 jam dari rumah. Ketika itu,
kondisi di kakak saya sedang repot. Sampai anak saya telat untuk makan.
Padahal, sore harinya saya akan pulang. Singkat cerita, siang itu anak saya
hanya makan bubur instan dan makan telur ayam kampung rebus.
Sore harinya kami pun pulang dengan naik
kendaraan umum. Kebetulan hari itu akhir pekan, jadi bus pun padat penumpang.
Anak saya merasa tidak nyaman dan berkeringat karena gerah. Di perjalanan, saya
melihat telinga anak saya memerah. Saya pikir, mungkin karena pengaruh keringat
dari anak saya.
Sampai di rumah, saya melihat ada bentol
kecil-kecil di sekitar alis matanya seperti digigit ulat. Saya berpikir, ulat
dari mana ya? Segera saya ganti seluruh pakaiannya dan membersihkan tubuhnya.
Namun ulatnya tidak ada, padahal saya sudah membersihkan seluruh isi rumah.
Saya kemudian memberinya minyak telon. Saya sama sekali tidak berpikir bahwa
itu gejala alergi.
Beberapa menit setelah saya memberi minya
telon, bentol di sekitar alis menghilang. Namun pindah ke pelipis, begitu
seterusnya sampai saya mendapati bentol-bentol di seluruh tubuhnya, yang hilang
dan muncul bergantian. Jujur saya sangat ketakutan ketika itu. Saya bertanya
kepada teman saya, dan teman saya bilang kalau anak saya mengalami kaligata
atau alergi kulit. Kebetulan anak teman saya juga pernah mengalami kaligata,
jadi dia bisa menenangkan hati saya kala itu. Teman saya memberikan saran
penanganan pertama, yaitu dengan mengoles minyak kayu putih atau bedak dingin
anti gatal.
Keesokan harinya, bentol pada tubuh anak saya
semakin banyak dan menyebar. Kira-kira ini berlangsung hingga 3 hari. Bentol
muncul hingga ke wajah. Astaghfirullah...saya benar-benar khawatir, hingga saya
membawanya ke dokter anak. Dokter kemudian bertanya pada saya dan suami, apakah
diantara kami ada yang memiliki alergi? Lalu kami pun kompak menjawab, tidak.
Lalu dokter bertanya lagi, apakah ada keluarga yang mengalami alergi? Kami pun
menjawab, tidak tahu.
Dokter kemudian menjelaskan bahwa alergi pasti
diturunkan oleh orangtua, entah dari bapak, ibu, hingga nenek moyangnya ke
atas. Alergi memang diturunkan, namun tidak semua keturunan pasti mengalami
alergi. Kemunculan alergi juga berbeda-beda antar anggota keluarga, bisa muncul
sebagai asma, gatal-gatal berair, bentol-bentol seperti digigit nyamuk (seperti
kasus anak saya), bersin-bersin, dll. Alergi dipicu oleh beberapa hal, seperti
debu, serbuk sari, makanan (ikan laut, telur, kacang-kacangan, coklat, dsb).
Tidak ada obat untuk alergi, namun alergi dapat dicegah. Obat-obatan yang
digunakan oleh penderita alergi biasanya hanya untuk meringankan gejala, bukan
untuk mengobati.
Akhirnya, dokter meresepkan bedak cair Cal dan
syrup Ceterizine untuk meringankan gejala alergi anak saya. Duuh, rasanya kalau
minum obat itu bagaimana ya?? Saya termasuk orangtua yang sebenarnya tidak
terlalu suka memberikan obat pada anak. Namun demi meringankan gejala, ya sudah
akhirnya saya minumkan obatnya, meskipun hanya setengah takaran dari yang
diresepkan dokter.
Selama dua tahun saya pantau alergi anak saya.
Dan saya melihat bahwa anak saya sebenarnya tidak ada pantangan makan apa pun
(pemicu alergi), namun tidak boleh berlebihan. Alergi anak saya muncul ketika
kondisi badannya kurang fit dan makan makanan pemicu alergi yang berlebihan.
Jadi sekarang saya punya cara tersendiri untuk mengatasi alergi anak saya. Jika
dia makan makanan pemicu alergi sedikit saja, lalu tiba-tiba muncul bentol
merah di kulitnya, maka saya pastika kondisinya kurang fit. Berarti jauhi dulu
makanan pemicu alergi seperti telur, produk turunan telur seperti roti, bakso,
susu sapi murni, tempe, ikan laut, coklat, snack ber-msg. Saya ganti menunya
dengan tahu, daging sapi, abon, ayam, dan sayuran.
Daya tahan anak juga meningkat ketika saya
rutin memberikan anak saya madu sebanyak satu sendok makan per hari ketika
pagi. Selain nafsu makannya bertambah, kondisi badannya selalu fit sehingga
alergi pun hampir tidak pernah terjadi.